Install this theme
It’s hard not to like a man who not only notice the colours, but speaks them.
Markus Zusak in The Book Thief
Belanja
  • Me:

    I know I need to go to carrefour but I foget what I should buy

  • Rafa:

    Your brain?

  • Me:

    (kampret)

Aktivis Mahasiswa yang cuma sibuk di kampusnya itu… Kegiatan dia tuh cuma sebatas onani
Bang Ridwan (via adiraoktaroza)
Without data, all you are is just another person with an opinion
Slide kuliah métodos de estudio de los ecosistemas
basa basi keparat

Ketika kamu menghitung mundur hari demi hari, memaknai lebih 1 hari yang kau tunggu itu dibanding hari hari lainnya, maka semesta akan berkonspirasi untuk membuatmu tersiksa. Pagi selalu datang terlambat. Bahkan jam tangan itu ingin kau banting banting rasanya saking lamanya ia menggerakkan jarum. Huh. Yang lebih konyol adalah imajinasi dan mimpi di siang bolong itu sudah melaju jauh ke depan sana dan seperti biasa ragamu yang goblok masih saja berkutat uring-uringan di tempatmu saat ini. Betapapun lancangnya manusia dengan membagi-bagi waktu dalam partisi-partisi dan memaknainya sesuka hati, ini tetap saja terlalu kejam. Kenapa seluruh jagat raya selalu menolak untuk bekerjasama dalam menunggu peristiwa penting? KENAPA? Tidak bisakah waktu berjalan seperti biasa, dengan kecepatan normal yang biasanya? Kenapa ia malah memilih bergerak bagaikan kura kura tua renta yang belum makan pagi? Dan inilah saat saat dimana tidurmu tak lagi sebuah ramah tamah bak orang jawa tetapi cuma basa basi keparat.

There is a huge difference between risking a life and throwing it away.
Kilua in Hunter x Hunter
Dan bibir Vivienne adalah sepotong puisi yang belum selesai. Aku yakin, hanya bibirku yang bisa menyelesaikannya menjadi sebuah puisi yang lengkap.
Leila S. Chudori dalam “Pulang”
Hey, this post may contain adult content, so we’ve hidden it from public view.
Learn more.

Hey, this post may contain adult content, so we’ve hidden it from public view.

Learn more.

Ternyata rindu itu bukan cuma soal rasa.

Tai kucing

Kalau seseorang sangat menginginkan sesuatu, dia harus berusaha dengan sangat keras dan sangat serius untuk mencapainya bukan? Apalagi kalau dia yakin sesuatu itu baik. Tapi jangan lupa, ada yang namanya gagal. Ada juga sedih. Tapi kegagalan tidak selalu harus diiringi dengan sedih ataupun lainnya yang jelek-jelek. Makanya manusia bikin mekanisme penolak kesedihan yang kira2 bunyinya seperti ini,“sudah, jangan terlalu serius. Walaupun sekeras apa pun berusaha, kita tetap nggak tahu masa depan. Masa depan itu di tangan Tuhan.”
Hey, jangan dulu omong kosong takdir dan Tuhan. Kita bicara usaha disini. Komitmen. Ikhtiar.
Misalnya begini ya. Ada anak SD mau lulus ujian. Dia berusaha sangaaaat keras (dalam tahap yang wajar dan halal). Lalu ibunya bilang,“sudah nak, jangan belajar terlalu keras. Kalau nanti ternyata kamu nggak lulus, kamu sendiri yang bakal sakit hati”. Masa boleh begitu? Mengecilkan harapan seseorang hanya supaya orang itu nggak sedih kalau gagal? Dimana-mana kalau orang mau apa2 itu ya mesti komit dong sama apa yang dia mau. Gagal itu resiko. Sedih itu pilihan. Persetan nasehat2,“jangan terlalu serius”. Mana ada. Tai kucing. Memang dengan nggak terlalu serius masih ada kemungkinan bisa tercapai. Tapi kemungkinannya bisa jauh lebih besar kalau serius toh? Jadi buat orang-orang tua yang sudah banyak makan asam garam, saya tidak butuh nasehat anda. Ada kalanya pengalaman membuat optimisme kita kabur. Dan saya tidak butuh itu. Jadi jangan omong macam macam sok bijak.